Kelompok negara BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) semakin serius mendorong penggunaan mata uang bersama dalam perdagangan internasional. Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS) yang selama puluhan tahun mendominasi sistem keuangan global.
Menurut laporan sejumlah media internasional, rencana pembentukan mata uang BRICS telah memasuki tahap diskusi teknis, termasuk soal mekanisme pembayaran lintas negara, dukungan cadangan devisa, hingga infrastruktur perbankan digital. Jika terwujud, mata uang baru ini akan digunakan untuk transaksi perdagangan antaranggota BRICS maupun mitra dagang strategis.
Ekonom menilai, langkah BRICS berpotensi mengubah peta kekuatan ekonomi global. Dengan populasi lebih dari 3,2 miliar jiwa serta menyumbang hampir 32% Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, BRICS memiliki daya tawar besar dalam menghadirkan alternatif selain dolar.
“Jika BRICS berhasil mengimplementasikan mata uang bersama, ini akan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi dominasi dolar dalam sejarah modern,” ujar seorang analis ekonomi internasional.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Perbedaan sistem politik, regulasi keuangan, hingga stabilitas ekonomi masing-masing negara anggota bisa menjadi hambatan. Selain itu, kepercayaan global terhadap mata uang baru juga perlu waktu untuk terbentuk.
Bagi Indonesia dan negara berkembang lain, keberadaan mata uang BRICS bisa membuka peluang diversifikasi transaksi perdagangan internasional. Tidak menutup kemungkinan, mata uang ini juga akan mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar akibat dominasi dolar.
Dengan semakin intensnya pembahasan di internal BRICS, para pengamat memprediksi mata uang baru ini bisa mulai diperkenalkan dalam beberapa tahun mendatang. Jika terealisasi, dunia akan menyaksikan babak baru dalam dinamika geopolitik ekonomi global.
