Banjir Parah Lumpuhkan Jalan Trans Sulawesi di Maros, 100 Ribu Warga Terdampak

Lokal

Maros, Sulawesi Selatan – Banjir besar melanda Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, sejak Selasa (11/2/2025) malam, mengakibatkan kemacetan hingga 21 jam di Jalan Poros Maros-Makassar. Genangan air setinggi 1 meter melumpuhkan arus lalu lintas Trans Sulawesi, memaksa ratusan pengendara menginap di jalanan atau mencari jalur alternatif via laut. Hingga Rabu (12/2) siang, banjir mulai surut, namun 14 kecamatan masih tergenang, berdampak pada lebih dari 100 ribu warga.

Jalan Utama Terputus, Pengendara Terjebak hingga Berjam-jam
Banjir yang dipicu hujan deras dan luapan Bendungan Lekopancing ini menggenangi ruas jalan sepanjang 500 meter di depan Kantor Bupati Maros. Kendaraan dari Makassar menuju utara terpaksa dialihkan ke jalur tinggi, sementara truk besar menjadi satu-satunya kendaraan yang bisa melintas. Arus lalu lintas baru normal kembali Rabu sore setelah air menyusut ke ketinggian 30 cm.

“Sejak pukul 21.00 Wita, jalan lumpuh total. Kami kesulitan mengurai kemacetan karena jalur alternatif juga terendam,” ujar Kasubsi Penmas Polres Maros, Ipda A. Marwan P. Afriadi.

Banyak pengendara terjebak sejak Selasa malam, termasuk Taufik Hasyim dan istrinya yang mengungsi di musala Kantor Dinas Pertanian Maros. “Motor tidak bisa melintas, kami terpaksa menunggu air surut,” kisahnya. Sejumlah penumpang pesawat bahkan nekat menerobos banjir dengan ojek dan ban tim SAR demi mengejar penerbangan di Bandara Sultan Hasanuddin.

Pemkab Maros Gerak Cepat: Dirikan Posko dan Dapur Umum
Bupati Maros, Chaidir Syam, menginstruksikan seluruh camat membuka posko pengungsian dan dapur umum di kantor kecamatan serta masjid. “Kami prioritaskan ketersediaan makanan bagi pengungsi. Koordinasi dengan relawan dan kepala desa terus diperkuat,” tegasnya saat meninjau posko di Islamic Center Maros, yang menampung 200 pengungsi.

Puskesmas dan rumah sakit tetap beroperasi, meski sekolah dan kantor pemerintahan diliburkan. Pegawai Kemenag Maros, Edy Wijaya, menuturkan, delapan stafnya terjebak di kantor yang terendam air setinggi dada. “Kami evakuasi dokumen penting ke tempat aman,” ujarnya.

Dampak Ekonomi dan Transportasi
Banjir ini mengganggu aktivitas ekonomi, terutama sektor logistik. Truk pengangkut ayam terpaksa membagikan muatannya agar tidak mati. Sementara itu, Rudi, warga Enrekang, kehilangan tiket penerbangan ke Balikpapan setelah terjebak macet sejak pukul 02.00 Wita. “Saya tetap ke bandara untuk mengurus refund,” katanya.

Warga seperti Azizah memilih jalur laut dari Dermaga Sabang ke Pelabuhan Paotere Makassar menggunakan kapal pribadi. “Ini solusi darurat karena jalan darat terputus,” jelasnya.

Peringatan dan Pemulihan
BPBD Maros melaporkan, 10 dari 14 kecamatan terdampak banjir, dengan ketinggian air 1-2 meter di permukiman. Warga rumah panggung masih bertahan, sementara lainnya mengungsi ke posko. “Tidak ada korban jiwa, tapi kami waspada terhadap banjir susulan,” kata Kepala BPBD Maros, Towadeng.

Meski air mulai surut, beberapa ruas jalan di dataran rendah masih terendam. Polisi setempat, seperti Kasat Lantas Iptu Kamaluddin, berupaya membuka arus kendaraan secara bertahap. “Antrean masih panjang, tetapi kondisi sudah membaik,” ujarnya.

Belajar dari Bencana
Banjir tahunan di Sulawesi Selatan kembali menyoroti lemahnya infrastruktur pengendali banjir. Bupati Chaidir menekankan pentingnya koordinasi antarlembaga dan kesiapan masyarakat. “Kami akan evaluasi sistem peringatan dini dan normalisasi sungai,” janjinya.

Hingga Kamis (13/2) pagi, aktivitas di Maros mulai pulih, meski warga tetap siaga mengingat cuaca belum sepenuhnya stabil. Bagi banyak orang, banjir ini menjadi pengingat betapa rentannya wilayah ini terhadap dampak perubahan iklim dan perlunya mitigasi jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *