Washington DC, 10 April 2025 — Dalam langkah mengejutkan yang memicu kegairahan pasar global, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan selama 90 hari terhadap sebagian tarif bea masuk impor (BMI) yang sebelumnya direncanakan akan diberlakukan kepada puluhan negara. Keputusan ini tidak berlaku untuk China, yang justru dikenai tarif baru sebesar 125%.
Dalam pernyataan resminya di media sosial Truth pada Rabu siang waktu Washington (Kamis dini hari WIB), Trump menyampaikan bahwa tarif umum sebesar 10% akan tetap berlaku, namun tarif-tarif yang lebih tinggi untuk banyak negara ditangguhkan sementara sebagai tanggapan atas pendekatan diplomatik dari lebih 75 negara.
“Saya mengesahkan penundaan 90 hari dan penurunan tarif timbal balik selama periode ini, sebesar 10%, berlaku segera,” tulis Trump.
Langkah ini disambut positif oleh pasar keuangan. Indeks saham utama Amerika Serikat ditutup melonjak tajam: S&P 500 naik 9,52%, Dow Jones 7,87%, dan Nasdaq 12,16%. Kenaikan ini mencatatkan lonjakan harian tertinggi S&P 500 sejak krisis keuangan 2008. Selain itu, harga obligasi pemerintah AS ikut naik dengan imbal hasil 10 tahun mencapai 3,24% dan 5 tahun naik ke 4,78%.
Harga komoditas juga menguat — minyak mentah naik 1,25%, emas 0,4%, dan tembaga melonjak ke 5,89%. Namun, nilai tukar dolar AS justru melemah terhadap banyak mata uang global, membuka peluang penguatan bagi mata uang negara-negara berkembang termasuk rupiah.
Meski memberikan jeda pada sebagian negara, AS tetap bersikap keras terhadap China. Pemerintahan Trump menaikkan tarif atas produk-produk China menjadi 125% dengan alasan “kurangnya rasa hormat” dari pemerintah Beijing dalam perundingan dagang. Sebagai respons, China langsung memberlakukan tarif balasan sebesar 84% terhadap impor dari AS.
Ketegangan ini menambah intensitas perang dagang antara dua negara ekonomi terbesar dunia, yang sejak awal April saling lempar tarif. Ekspor China ke AS pada tahun 2024 mencapai US$463 miliar, sementara ekspor AS ke China tercatat sebesar US$199 miliar.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengecam keras keputusan Trump dan menyebut AS bersikap hegemonik serta tidak menghormati prinsip perdagangan multilateral. “Jika AS memilih konfrontasi, China siap melanjutkan perlawanan sampai akhir,” tegasnya.
Dampak dari kebijakan tarif yang berubah-ubah ini memicu kekhawatiran luas. Goldman Sachs menurunkan proyeksi kemungkinan resesi AS dari 65% menjadi 45% pasca-penundaan tarif, meski memperingatkan bahwa tekanan terhadap perekonomian tetap besar. Mantan Menteri Keuangan AS Larry Summers bahkan memperkirakan dua juta warga AS berisiko kehilangan pekerjaan akibat gangguan rantai pasok.
Presiden Trump sendiri menyatakan bahwa penundaan ini adalah bagian dari strategi negosiasi untuk memberikan waktu kepada mitra dagang menyampaikan proposal yang adil. Delegasi dari lebih dari 75 negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam, telah atau dijadwalkan bertemu dengan pejabat tinggi AS untuk membahas langkah selanjutnya.
Meskipun pasar saat ini menunjukkan tanda-tanda pemulihan, analis memperingatkan bahwa ketidakpastian kebijakan tarif masih dapat membebani pertumbuhan ekonomi global dalam beberapa bulan ke depan.
