Perang sengit antara Iran dan Israel kian memprihatinkan, dengan kedua negara saling meluncurkan rudal yang menargetkan fasilitas strategis dan pejabat pemerintahan. Situasi ini memicu kekhawatiran berbagai pihak di dunia internasional.
Sebuah suara berbeda muncul dari dalam Israel. Wali Kota Haifa, Yona Yahav, dalam wawancaranya dengan CNN International, menyerukan agar negaranya segera menghentikan perang melawan Iran. Yahav mengkritik ketidakjelasan sikap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait kemungkinan keterlibatan AS mendukung Israel. Trump menyebut keputusan tersebut baru akan diumumkan dalam dua minggu mendatang, sesuatu yang dianggap Yahav terlalu lama di tengah situasi kritis ini.
“Saya tidak mendapatkan jawaban tegas dari Trump, dan itu sangat mengganggu saya,” kata Yahav, seraya mengonfirmasi bahwa serangan Iran ke Haifa tidak menimbulkan korban jiwa, meskipun 21 warga mengalami luka-luka. Yahav, yang mengaku telah menyaksikan 10 perang sepanjang hidupnya, menyebut Haifa sebagai kota yang selama ini hidup damai dengan warganya yang berasal dari berbagai latar belakang. Ia berharap negosiasi di Jenewa yang melibatkan Iran dan negara-negara Eropa membuahkan kesepakatan damai.
Di sisi lain, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam perang tersebut. Dalam pertemuan puncak negara-negara Islam di Istanbul, Erdogan memperingatkan akan munculnya “perintah Sykes-Picot baru” di kawasan Timur Tengah akibat konflik ini. Ia menuduh Israel berusaha menggagalkan diplomasi terkait nuklir antara Washington dan Teheran, serta menyerukan negara-negara Muslim untuk mengambil langkah hukum internasional terhadap Israel.
Puncak eskalasi terjadi ketika Amerika Serikat secara resmi menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada Minggu (22/6/2025). Serangan ini disebut Presiden Trump sebagai “keberhasilan besar” dan mendesak Iran segera menghentikan perang.
Langkah AS ini langsung menuai reaksi keras dari berbagai negara:
- Israel: Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memuji Trump, menyebut serangan itu sebagai “keputusan berani yang akan mengubah sejarah.”
- PBB: Sekjen Antonio Guterres memperingatkan eskalasi berbahaya ini dapat mengancam perdamaian global. Ia menekankan pentingnya diplomasi sebagai satu-satunya jalan keluar.
- Venezuela dan Kuba: Kedua negara mengecam agresi AS, menyebutnya melanggar hukum internasional dan Piagam PBB.
- Meksiko: Pemerintah Meksiko menyerukan dialog damai demi meredakan ketegangan.
- Hamas: Kelompok ini menyebut serangan AS sebagai bagian dari agenda Israel dan menegaskan dukungan penuh untuk Iran.
- Houthi Yaman: Houthi mengancam AS dan menyatakan Washington harus menanggung akibat serangannya.
Hingga kini, sejumlah negara Arab di sekitar Iran masih belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait serangan tersebut.
